Moms, Dads, di tengah kesibukan pekerjaan, urusan rumah tangga, dan notifikasi gadget yang tidak henti berbunyi, kapan terakhir kali kita benar-benar “hadir” saat berbicara dengan pasangan atau anak-anak? Seringkali, kita menganggap komunikasi lancar itu berarti tidak ada pertengkaran. Padahal, komunikasi yang sehat lebih dari sekadar pertukaran informasi. Kuncinya terletak pada komunikasi empati.
Membangun empati di rumah bukan hanya membuat hubungan lebih harmonis, tetapi juga menjadi fondasi utama kesehatan mental seluruh anggota keluarga. Rumah seharusnya menjadi tempat di mana setiap perasaan diterima, didengar, divalidasi. Lantas, bagaimana cara memulainya? Mari kita pelajari tiga pilar utamanya.
1. Seni Mendengarkan Aktif (Active Listening)
Pernahkah si Kecil bercerita dengan antusias, tetapi kita hanya merespons dengan “Hmm,” atau “Oh ya?” sambil mata tetap tertuju ke layar HP? Mendengarkan aktif adalah tindakan mendengarkan untuk memahami, bukan sekadar menunggu giliran untuk menjawab atau menasihati.

Cara bagi orang tua mempraktik seni mendengarkan, antara lain:
- Simpan gadget, saat anak atau pasangan mengajak bicara, letakkan apa pun yang sedang dipegang. Berikan kontak mata penuh. Bahasa tubuh ini mengirimkan sinyal kuat bahwa kamu penting bagi saya.
- Sejajarkan posisi, jika berbicara dengan anak, turunkan tubuh Moms/Dads agar mata sejajar dengan mereka (eye-level). Ini menghilangkan intimidasi dan menciptakan kedekatan.
- Refleksikan ucapan, ulangi apa yang mereka katakan dengan bahasa kita sendiri untuk memastikan pemahaman. Contoh: “Oh, jadi Kakak kesal ya karena mainannya dipinjam teman tanpa izin?”
2. Validasi Perasaan adalah Kunci Meredakan Emosi
Seringkali, niat kita sebagai orang tua adalah ingin anak segera berhenti menangis atau sedih. Kita pun sering mengeluarkan kalimat: “Udah, jangan nangis. Gitu aja kok cengeng,” atau “Masa gitu aja takut?”
Tanpa sadar, ini adalah bentuk gaslighting kecil yang membuat anak merasa perasaannya salah atau tidak penting.

Validasi perasaan berarti mengakui bahwa apa yang mereka rasakan itu nyata dan boleh dirasakan, meskipun kita tidak setuju dengan perilakunya. Untuk memvalidasi perasaan anak, Moms, Dads sebaiknya gunakan kalimat seperti:
- “Ayah lihat kamu sedang marah sekali. Rasanya tidak enak ya kalau keinginan kita tidak dituruti?” daripada “Jangan marah-marah terus!”
- “Adik takut ya lihat badut itu? Tidak apa-apa, sini pegang tangan Bunda. Kita lihat dari jauh saja ya.” ketimbang mengatakan “Nggak usah takut, itu cuma badut.”
Ketika perasaan tervalidasi, “alarm bahaya” di otak anak akan mereda. Mereka merasa diterima, sehingga lebih cepat tenang dan siap mencari solusi bersama.
3. Mengajarkan Anak Mengekspresikan Emosi dengan Sehat
Anak-anak tidak lahir dengan kemampuan mengelola emosi, mereka harus diajarkan. Tantrum seringkali terjadi karena mereka frustrasi tidak tahu cara mengeluarkan “rasa tidak enak” di dalam dada mereka.

Langkah untuk mengajarkannya pada anak-anak, adalah:
- Beri Nama pada Emosi (Name It to Tame It). Bantu anak memperluas kosakata emosinya. Bukan hanya “marah” atau “sedih”, kenalkan juga “kecewa”, “gugup”, “semangat”, atau “bosan”.
- Bedakan Perasaan vs. Perilaku. Ajarkan bahwa semua perasaan itu boleh, tetapi tidak semua perilaku itu boleh. “Kamu boleh marah pada Adik, tapi kamu tidak boleh memukul. Kalau marah, kamu bisa bilang ‘Kakak marah!’ atau pukul bantal ini.”
- Jadilah Role Model. Anak meniru apa yang mereka lihat. Jika Moms sedang stres, katakanlah: “Bunda sedang lelah dan butuh istirahat sebentar supaya tidak marah-marah. Bunda minum teh dulu ya.” Ini mengajarkan anak cara regulasi diri yang sehat.
Dampak Besar bagi Kesehatan Mental Keluarga
Keluarga yang menerapkan komunikasi empati akan menciptakan safe space (ruang aman). Anak-anak yang tumbuh dengan empati cenderung memiliki kecerdasan emosional (EQ) tinggi, lebih tangguh menghadapi bullying, dan memiliki risiko depresi yang lebih rendah saat remaja.
Bagi orang tua, ini juga mengurangi stres pengasuhan karena konflik di rumah dapat diselesaikan dengan kepala dingin, bukan dengan teriakan.
Rehat Sejenak untuk Koneksi yang Lebih Erat di Mom n Jo
Membangun empati membutuhkan energi dan kesabaran yang besar. Sulit bagi Moms dan Dads untuk menjadi pendengar yang baik jika “cangkir emosi” kalian sendiri sedang kosong atau tubuh terasa sangat lelah. Ingat pepatah, “You can’t pour from an empty cup.”
Mom n Jo, menyediakan ruang bagi keluarga untuk mengisi kembali energi tersebut. Melalui layanan pijat bayi, spa anak, pediatric massage dan spa untuk pasangan, Moms, Dads, dan si Kecil bisa menikmati perawatan relaksasi bersama.
Sentuhan pijat profesional tidak hanya melepas ketegangan otot, tetapi juga memicu hormon oksitosin dan endorfin yang membuat suasana hati menjadi positif. Ketika tubuh rileks dan pikiran tenang, obrolan dari hati ke hati dengan pasangan dan anak akan mengalir jauh lebih mudah dan hangat.
Moms, Dads, siap membangun keluarga yang lebih terkoneksi dan bahagia? Segera jadwalkan family time berkualitas di Mom n Jo! Mulailah perjalanan kesehatan mental keluarga dengan tubuh yang rileks.
